“…Menikahlah Dengan Hati Yang Bersih…”
Sunday, July 10th, 2005…Benarkah menikah didasari oleh kecocokan?
Kalau dua-duanya doyan musik, berarti ada
gejala bisa langgeng..kalau sama-sama suka
sop buntut berarti masa depan cerah…(That simple?)
Berbeda dengan sepasang sandal yang hanya
punya aspek kiri dan kanan, menikah adalah
persatuan dua manusia, pria dan wanita. Dari
anatomi saja sudah tidak sebangun, apalagi
urusan jiwa dan hatinya.
Kecocokan minat dan latar belakang keluarga
bukan jaminan segalanya akan lancar.. Lalu apa?
Menikah adalah proses pendewasaan, dan untuk
memasukinya diperlukan pelaku yang kuat dan
berani. Berani menghadapi masalah yang akan
terjadi dan punya kekuatan untuk menemukan
jalan keluarnya. Kedengarannya sih indah,
tapi kenyataannya?
Kadang kekurangan masing2 selalu menjadi alasan
untuk membatalkan pernikahan…entahlah kadang
ada yang merasa diri tidak konsistenlah, ragulah
atau apalah…sebenarnya itu hanyalah setitik cobaan
diawal suatu rencana besar. Cobalah untuk menyelesaikan
dengan berdiskusi atau mengkomunikasikan perbedaan itu
dengan mencari win2 solution.
Point2 yang umum n wajib ada cm sedikit:
1. Harus ada komunikasi dua arah,
2. ada kerelaan mendengar kritik,
3. ada keikhlasan meminta maaf,
4. ada ketulusan melupakan kesalahan,
5. dan ada keberanian untuk mengemukakan pendapat.
Sekali lagi menikah bukanlah upacara yang
diramaikan gending cinta, bukan rancangan gaun
pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian
mobil undangan yang memacetkan jalan
Menikah adalah berani memutuskan untuk
berlabuh, ketika ribuan kapal pesiar yang gemerlap
memanggil-manggil
Menikah adalah proses penggabungan DUA ORANG
BERKEPALA BATU dalam satu ruangan dimana
ciuman, pelukan, dan hubungan cinta yang
berkepanjangan hanyalah bunga.
Bukannya untuk saling unjuk KEGOISAN masing-masing yang
pada akhirnya justru akan berakhir pada berbagai
argumen-argumen TIDAK PENTING.
Masalahnya bukanlah menikah dengan :
1. Anak siapa,
2. yang materi/hartanya berapa,
3. bukanlah rangkaian bunga mawar yang jumlahnya ratusan,
4. bukanlah perencanaan berbulan-bulan yang akhirnya
membuat keluarga saling tersinggung,
5. Apalagi kegemaran minum kopi yang sama…
Menikah adalah proses pengenalan diri sendiri
maupun pasangan anda. Tanpa mengenali diri
sendiri, bagaimana anda bisa memahami orang
lain… Tanpa bisa memperhatikan diri
sendiri, bagaimana anda bisa memperhatikan
pasangan hidup ?
Menikah sangat membutuhkan keberanian tingkat
tinggi, toleransi sedalam samudra, serta
jiwa besar untuk menerima segala sesuatu dan memaafkan.